Proses Pembekuan Darah (Koagulasi), Skema dan Kelainan Proses Pembekuan Darah Pada Manusia Lengkap

Posted on

Mekanisme Proses Pembekuan Darah (Koagulasi), Skema dan Kelainan Proses Pembekuan Darah Pada Manusia Lengkap – Saat terjadi luka atau cidera, pembuluh darah bisa rusak dan terjadi pendarahan. Untuk menghentikan pendarahan tersebut, tubuh akan mengaktifkan proses pembekuan darah dan penyembuhan luka. Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan disebut dengan hemostasis. Terdapat beberapa fase penting pada mekanisme ini, di antaranya fase pembentukan sumbatan oleh platelet (keping darah) dan fase pembekuan darah. Proses pembekuan darah atau koagulasi adalah proses kompleks, di mana darah membentuk gumpalan (bekuan darah) untuk menutup, memulihkan luka, dan juga menghentikan pendarahan.

Unsur-Unsur Proses Pembekuan Darah

Proses pembekuan darah atau koagulasi melibatkan unsur-unsur seperti trombosit dan komponen faktor koagulasi.

Trombosit
Trombosit atau keping darah adalah elemen berbentuk cakram di dalam darah. Trombosit digolongkan sebagai sel darah, tetapi sebenarnya trombosit adalah bagian dari sel-sel sumsum tulang yang disebut dengan megakaryocytes. Trombosit berperan untuk membantu membentuk bekuan darah, guna memperlambat atau menghentikan perdarahan, serta penyembuhan luka.

Loading...

Faktor koagulasi (faktor pembekuan)
Faktor koagulasi adalah protein, sebagian besar diproduksi oleh organ hati. Ada sekitar 13 faktor koagulasi dalam darah dan jaringan tubuh manusia.

Komponen darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah ada 2 yaitu:

Plasma Darah
Plasma darah adalah komponen darah yang berupa cairan, mengisi sekitar 55% dari volume darah. Di dalam plasma darah, zat-zat terlarut bersama air. Fungsi utama plasma darah yaitu mengatur keseimbangan osmosis darah dalam tubuh.

Sel Darah
Terdapat sekitar 40-50% sel darah dari volume darah. Darah mengandung beberapa tipe sel darah yang memiliki fungsi berbeda-beda. Terdapat 3 sel darah yaitu sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit), dan keping darah (trombosit)

Proses Pembekuan Darah

Berikut ini mekanisme pembekuan darah dalam tubuh:

Trombosit membentuk sumbatan
Saat pembuluh darah rusak atau ada luka, rombosit akan bereaksi. Trombosit akan menempel pada dinding daerah yang luka guna membentuk sumbatan. Sumbatan tersebut dibentuk untuk menutup bagian yang rusak, agar menghentikan darah yang keluar. Selain itu, trombosit juga melepaskan bahan kimia untuk menarik lebih banyak trombosit dan sel-sel lain untuk melanjutkan tahap selanjutnya.

Pembentukan bekuan darah
Faktor-faktor koagulasi atau pembekuan akan memberi sinyal satu sama lain, untuk melakukan reaksi berantai yang cepat. Reaksi ini disebu dengan kaskade koagulasi. Pada tahap akhir kaskade, faktor koagulasi yang disebut trombin mengubah fibrinogen menjadi helai-helai fibrin. Fibrin bekerja dengan cara menempel pada trombosit untuk membuat jaring yang merangkap lebih banyak trombosit dan sel. Gumpalan atau bekuan akan menjadi lebih kuat dan lebih tahan lama.

Penghentian proses pembekuan darah
Setelah bekuan darah terbentuk dan perdarahan terkendali. Protein lain akan menghentikan faktor pembekuan, agar gumpalan tidak berlanjut lebih jauh dari yang dibutuhkan.

Tubuh perlahan-lahan membuang sumbatan
Saat jaringan kulit yang rusak sembuh, secara langsung sumbatan tidak dibutuhkan lagi. Helai fibrin akan hancur dan darah mengambil kembali trombosit dan sel-sel dari bekuan darah.

Lebih jelasnya perhatikan tahapan mekanisme atau skema pembekuan darah, berikut ini:

Lebih singkatnya, proses pembekuan darah yaitu:

  • Trombosit pecah lalu mengeluarkan trombokinasi
  • Trombokinase lalu masuk ke dalam plasma darah
  • Plasma darah mengubah protrombin menjadi trombin dengan bantuan vitamin K dan Ca²+
  • Trombin yang terbentuk akan merubah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin
  • Benang-benang fibrin ini menyebabkan luka tertutup

Kelainan Proses Pembekuan Darah

Jika proses pembekuan darah mengalami kelainan, maka bisa terjadi perdarahan berlebih atau sebaliknya terjadi pembekuan darah terlalu banyak sehingga bisa mengganggu sirkulasi darah. Tidak semua orang mengalami proses pembekuan darah yang normal, sebagian orang bisa mengalami kelainan pada proses pembekuan darah, misalnya penyakit hemofilia, di mana terdapat kekurangan faktor koagulasi VIII atau IX. Pada penyakit hemofilia ini, perdarahan yang terjadi sulit berhenti.

Pembekuan darah juga bisa terbentuk meskipun tidak dibutuhkan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kondisi medis berat seperti serangan jantung, emboli paru, dan stroke. Untuk itu, untuk mencegah terjadinya pembekuan darah yang abnormal sangat disarankan untuk rajin bergerak dan berolahraga, tidak merokok, dan menerapkan pola hidup sehat.

Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Proses Pembekuan Darah (Koagulasi), Skema dan Kelainan Proses Pembekuan Darah Pada Manusia Lengkap . Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.