Pengertian Laba Ditahan, Fungsi dan Cara Menghitung Laba Ditahan (Retained Earnings) Lengkap

Posted on

Pengertian Laba Ditahan, Fungsi dan Cara Menghitung Laba Ditahan (Retained Earnings) Lengkap – Laba Ditahan (Retained Earnings) adalah sebagian atau keseluruhan laba yang didapatkan perusahaan yang tidak dibagikann kepada pemegang saham dalam bentuk deviden. Jumlah laba ditahan atau laba yang tidak dibagi ini bisa digunakan perusahaan sebagai tambahan modal atau untuk memperbesar modal perusahaan. Laba Ditahan (Retained Earnings) merupakan kumpulan laba tahun berjalan dari sejak tahun pertama perusahaan berdiri hingga sekarang setelah dikurangi dengan dividen yang dibagi.

Keputusan untuk membagi atau tidak atas Laba Ditahan kepada pemegang saham akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Laba Ditahan (Retained Earnings) tersebut didalam laporan Neraca ada pada posisi Pasiva.

Laba ditahan biasanya ada pada perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas atau PT. Mengetahui bagaimana pertumbuhan laba ditahan merupakan salah satu cara pemilik perusahaan mengetahui kinerja perusahaan selama beberapa tahun.

Loading...

Laba ditahan adalah hasil dari laba komersial setelah dikurangi pajak penghasilan. Laba ditahan akan dikenakan pajak penghasilan apabila laba tersebut tidak dibagikan kepada pemegang saham sebagai deviden dengan syarat tertentu.

Fungsi Laba Ditahan

Adapun fungsi atau manfaat laba ditahan di suatu perusahaan yaitu:

  • Untuk melunasi hutang-hutang yang dimiliki perusahaan
  • Sebagai salah satu sumber biaya dalam membiayai operasional perusahaan dalam mencapai laba yang lebih maksimal
  • Sebagai cadangan biaya untuk melakukan investasi kepada investor
  • Dapat digunakan dalam pekembangan perusahaan dimasa yang akan datang

Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Laba Ditahan

Adapun faktor yang mempengaruhi besarnya laba ditahan pada suatu perusahaan, diantaranya yaitu:

  • Perubahan dalam pajak perusahaan
  • Perubahan dalam strategi bisnis perusahaan
  • Perubahan dalam harga pokok penjualan (HPP)
  • Perubahan penerimaan bersih
  • Perubahan besarnya jumlah uang yang dibayar kepada para pemegang saham (investor) yang dalam bentuk deviden
  • Perubahan dalam biaya administrasi perusahaan

Cara Menghitung Laba Ditahan Perusahaan

Berikut cara menghitung laba ditahan perusahaan:

Kumpulkan data yang dibutuhkan dari laporan keuangan perusahaan

Setiap perusahaan diharuskan melakukan dokumentasi riwayat keuangan perusahaan secara resmi. Jika bisa melakukannya, biasanya akan lebih mudah menghitung laba ditahan selama periode yang berjalan dengan menggunakan angka dari laporan resmi untuk mengetahui jumlah laba ditahan pada tanggal tertentu, laba bersih, dan dividen yang sudah dibayar, dibanding harus menghitung secara manual. Laba ditahan perusahaan hingga periode pencatatan terakhir akan ditampilkan dalam neraca, sementara laba bersih perusahaan akan ditampilkan dalam laporan laba rugi untuk periode yang berjalan.

Jika informasi keuangan tersebut sudah diperoleh, laba ditahan dapat dihitung dengan rumus:

Laba bersih – dividen yang dibayarkan = laba ditahan

Untuk menghitung laba bersih kumulatif, tambahkan angka laba ditahan yang baru saja dihitung dengan saldo laba ditahan yang sudah ada pada saat ini.

Misalnya pada akhir tahun 2016 perusahaan memiliki saldo laba ditahan kumulatif sebesar Rp. 611 juta. Selama tahun 2012, perusahaan menghasilkan laba bersih sebesar Rp25 juta dan membayar dividen sebesar Rp6 juta. Maka saldo akhir laba ditahan dari perusahaan yaitu

Rp25 juta – Rp6 juta = Rp19 juta

Rp611 juta + Rp19 juta = Rp630 juta

Jadi, perusahaan memiliki laba ditahan sebesar Rp630 juta.

Jika tidak mempunyai informasi laba bersih, mulai dengan menghitung laba kotor

Laba kotor perusahaan adalah angka yang dihitung dengan cara mengurangi uang penjualan dengan harga pokok penjualan (HPP) dan angka yang dihasilkan dari laporan laba rugi.

Contohnya, sebuah perusahaan berhasil mencapai angka penjualan sebesar Rp250.000 dalam satu kuartal, namun harus membayar Rp80.000 untuk barang yang perlukan dalam menghasilkan angka penjualan sebesar Rp250.000 tersebut. Laba kotor selama satu kuartal ini yaitu:

Rp250.000 – Rp80.000 = Rp170.000

Hitung laba operasi

Laba operasi mencerminkan laba perusahaan setelah membayar biaya penjualan dan biaya operasi, seperti upah yang sudah dibayar. Untuk menghitung laba operasi ini, kurangi laba kotor dengan biaya operasi perusahaan (tidak termasuk harga pokok penjualan).

Contohnya, dalam kuartal yang sama perusahaan menghasilkan laba kotor sebesar Rp70.000, ada pembayaran biaya administrasi dan upah sebesar Rp25.000. maka laba operasi perusahaan yaitu

Rp70.000 – Rp25.000 = Rp45.000.

Hitung laba bersih sebelum pajak

Menghitung laba bersih sebelum pajak yaitu kurangi laba operasi perusahaan dengan bunga, depresiasi, dan amortisasi. Depresiasi dan amortisasi yaitu penyusutan dari nilai aktiva (berwujud dan tidak berwujud) selama masa ekonomisnya. Hal tersebut dicatat sebagai biaya dalam laporan laba rugi. Jika perusahaan membeli peralatan dengan harga Rp20.000 dengan masa ekonomis 10 tahun, akan timbul biaya depresiasi sebesar Rp2.000 per tahun, dengan asumsi nilainya terdepresiasi secara merata.

Contohnya, perusahaan membayar biaya bunga sebesar Rp1.400 dan biaya depresiasi sebesar Rp3.000. Laba bersih sebelum pajak dari perusahaan kita akan menjadi

Rp45.000 – Rp1.400 – Rp3.000 = Rp40.600.

Hitung laba bersih setelah pajak

Untuk menghitung laba bersih setelah pajak, kalikan terlebih dahulu tarif pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum pajak. Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih setelah pajak, kurangi angka hasil perkalian tersebut dari angka laba bersih sebelum pajak.

Contohnya, tarif pajak diansumsikan sebesar 30%. Biaya pajak yang harus kita bayar yaitu:

30% (0,30) x Rp40.600 = Rp12.180.

Lalu kurangkan hasil tersebut dari jumlah laba bersih sebelum pajak.

Rp40.600 – Rp12.180 = Rp28.420.

Kurangi dengan jumlah dividen yang sudah dibayarkan

Untuk menghitungnya, kurangi laba bersih setelah pajak dengan dividen yang sudah dibayarkan.

Contohnya, asumsikan perusahaan membayar dividen kepada investor sebesar Rp15.000 untuk kuartal ini. Laba ditahan untuk periode yang berjalan ini akan menjadi:

Rp28.420- Rp15.000 = Rp. 13.420

Hitung saldo akhir dari akun laba ditahan

Untuk mengetahui besarnya laba ditahan secara keseluruhan, tambahkan laba ditahan dari periode yang sedang berjalan dengan saldo akhir laba ditahan pada saat periode pembukuan yang lalu berakhir.

Contohnya, asumsikan perusahaan sudah menahan laba sebesar Rp50.000 hingga saat ini. Jadi, sekarang saldo pada akun laba ditahan akan menjadi:

Rp50.000 + Rp. 13.420 = Rp63.420

Demikian artikel tentang “Pengertian Laba Ditahan, Fungsi dan Cara Menghitung Laba Ditahan (Retained Earnings) Lengkap“, semoga bermanfaat.