Pengertian Berpikir Kritis, Karakteristik, Komponen dan Indikator Berpikir Kritis Lengkap

Posted on

Pengertian Berpikir Kritis, Karakteristik, Komponen dan Indikator Berpikir Kritis Lengkap – Berpikir kritis adalah kemampuan seseorang dalam menganalisis ide atau gagasan secara logis, reflektif, sistematis dan produktif untuk membantu membuat, mengevaluasi serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau akan dilakukan sehingga berhasil dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu permasalahan hingga pada tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pengertian Berpikir Kritis Menurut Para Ahli

Surya (2011:131)

Menurut Surya, Berpikir Kritis adalah kegiatan yang aktif, gigih, dan pertimbangan yang cermat mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan apapun yang diterima dipandang dari berbagai sudut alasan yang mendukung dan menyimpulkan.

Loading...

Johnson (2010:100)

Menurut Johnson, Berpikir Kritis adalah sebuah proses yang terorganisir dan jelas yang digunakan dalam aktivitas mental seperti pemecahan masalah, pembuat keputusan, menganalisis asumsi dan penemuan secara ilmiah.

Kurfiss (1988)

Menurut Kurfiss, Berpikir Kritis adalah sebuah pengkajian yang tujuannya untuk mengkaji sebuah situasi, fenomena, pertanyaan, atau masalah untuk mendapatkan sebuah hipotesis atau kesimpulan yang mengintegrasikan semua informasi yang tersedia sehingga dapat dijustifikasi dengan yakin.

Wijaya (2010:72)

Menurut Wijaya, Berpikir Kritis adalah kegiatan menganalisis ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna.

Seriven dan Paul (dalam Suwarma, 2009:11)

Menurut Seriven dan Paul, Berpikir Kritis adalah sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan.

Karakteristik Berpikir Kritis

Menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat 8 (delapan) karakteristik atau ciri-ciri berpikir kritis, diantaranya yaitu:

Watak (dispositions)
Seseorang yang memiliki keterampilan berpikir kritis memiliki sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.

Kriteria (criteria)
Dalam berpikir kritis harus memiliki sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun suatu argumen bisa disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan memiliki kriteria yang berbeda. Jika kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan pada relevansi, keakuratan fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

Argumen (argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Tapi, secara umum argumen diartikan sebagai alasan yang bisa digunakan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)
Ini merupakan kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir kritis akan memandang atau menafsirkan fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur ini meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan.

Komponen Berpikir Kritis

Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, diantaranya yaitu:

Basic operations of reasoning
Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah logis lainnya secara mental.

Domain-specific knowledge
Dalam menghadapi suatu masalah, seseorang harus mengetahui topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.

Metakognitive knowledge
Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor saat ia mencoba untuk benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia membutuhkan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia bisa dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.

Values, beliefs and dispositions
Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan pada diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Selain itu, ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.

Indikator Berpikir Kritis

Menurut Fisher dalam Rahmawati (2011:8), indikator kemampuan berpikir kritis diantaranya yaitu:

  • Mengidentifikasi unsur dalam kasus beralasan, terutama alasan dan kesimpulan.
  • Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi.
  • Memperjelas dan menginterpretasikan pernyataan dan ide.
  • Mengadili penerimaan, terutama kredibilitas dan klaim.
  • Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.
  • Menganalisis, mengevaluasi dan menghasilkan penjelasan.
  • Menganalisis, mengevaluasi dan membuat keputusan.
  • Menyimpulkan.
  • Menghasilkan argumen.

Sedangkan menurut Ennis dalam Maftukhin (2013:24), terdapat lima kelompok indikator kemampuan berpikir kritis, diantaranya yaitu:

Klarifikasi Dasar (Elementary Clarification)
Klarifikasi dasar terbagi menjadi tiga indikator yaitu

  • Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan
  • Menganalisis argumen
  • Bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan atau pertanyaan yang menantang.

Memberikan Alasan untuk Suatu Keputusan (The Basis for The Decision)
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu

  • Mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber
  • Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi.

Menyimpulkan (Inference)
Tahap menyimpulkan terdiri dari tiga indikator, diantaranya yaitu

  • Membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi
  • Membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi
  • Membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan.

Klarifikasi Lebih Lanjut (Advanced Clarification)
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu

  • Mengidentifikasikan istilah dan mempertimbangkan definisi
  • Mengacu pada asumsi yang tidak dinyatakan.

Dugaan dan Keterpaduan (Supposition and Integration)
Tahap ini terbagi menjadi dua indikator, diantaranya yaitu

  • Mempertimbangkan dan memikirkan secara logis premis, alasan, asumsi, posisi, dan usulan lain yang tidak disetujui oleh mereka atau yang membuat mereka merasa ragu tanpa membuat ketidaksepakatan atau keraguan itu mengganggu pikiran mereka.
  • Menggabungkan kemampuan kemampuan lain dan disposisi dalam membuat dan mempertahankan suatu keputusan.

Demikian artikel tentang  semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.