Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Klasifikasi Jenis dan Sumber Vitamin Lengkap

Posted on

Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Klasifikasi Jenis dan Sumber Vitamin Lengkap – Vitamin adalah sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.

Kata vitamin berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang berarti “hidup” dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus fungsi yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian.

Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik diantaranya yaitu vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin (B1), riboflavin (B2), niasin (B3), asam pantotenat (B5), biotin (B7/vitamin H), vitamin B6, vitamin B12, dan folat). Meski memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya bisa memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif. Sumber vitamin dapat berasal dari makanan, seperti buah-buahan, sayuran, dan suplemen makanan.

Apabila kadar vitamin yang dibutuhkan tubuh tidak mencukupi, maka dapat menyebabkan suatu penyakit yang disebut dengan avitaminosis yaitu penyakit kekurangan vitamin.

Sejarah Penemuan Vitamin

Era penyembuhan empiris
Era ini dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum masehi. Pada masa itu, banyak ahli pengobatan dari berbagai bangsa, seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak senyawa (diduga vitamin) dari hati yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan penyakit kerabunan pada malam hari. Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Meski pada masa tersebut ekstrak hati tersebut banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum bisa mengidentifikasi senyawa yang bisa menyembuhkan penyakit kerabunan tersebut. Untuk itu, era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris (berdasarkan pengalaman).

Era karakterisasi defisiensi
Era perkembangan vitamin ini muncul pada tahun 1890-an. Penemuan ini diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan Eijkman yang melakukan penelitian mengenai penyakit defisiensi pada hewan. Penelitian mereka terfokus pada pengamatan penyakit akibat defisiensi senyawa tertentu. Beberapa tahun berselang, ilmuwan Sir Frederick G. Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit beri-beri pada hewan menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu senyawa faktor pertumbuhan (growth factor). Pada tahun 1911, seorang ilmuwan kelahiran Amerika bernama Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu senyawa yang telah dibuktikan bisa mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Dr. Casimir juga berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini memiliki aktivitas anti beri-beri pada tahun berikutnya. Pada saat itudan untuk pertama kalinya, Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya tersebut dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada senyawa vitamin tersbeu karena diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus amina (amine). Hal ini kemudian segera disanggah dan diganti menjadi vitamin (dengan penghilangan akhiran huruf “e”) pada tahun 1920.

Masa keemasan
Setelah beberapa dekade, terjadi banyak penemuan besar mengenai vitamin, meliputi penemuan vitamin jenis baru, metode penapisan yang diperbahurui, penggambaran struktur lengkap vitamin, dan sintesis vitamin B12. Untuk itu, era ini dikenal dengan masa keemasan (golden age). Banyak penelti yang mendapatkan hadiah nobel atas penemuannya di bidang vitamin ini. Sir Walter N. Hawort mendapatkan nobel di bidang kimia atas penemuan vitamin C (1937). Selain itu, Carl Peter Henrik Dam di bidang Fisiologi-Pengobatan pada tahun 1943 atas penemuan vitamin K; Fritz A Litmann juga memenangkan nobel atas dedikasinya di bidang penelitian mengenai penemuan koenzim A dan perannya di dalam metabolisme tubuh.

Era karakterisasi fungsi dan produksi
Era ini ditandai dengan banyaknya penemuan mengenai fungsi biokimia vitamin di dalam tubuh, perannya dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari, dan produksi komersial vitamin untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pada tahun 1930-an, para peneliti menemukan bahwa vitamin B2 merupakan bagian dari “enzim kuning”. Vitamin B2 ini diperoleh dari ekstrak ragi. Melalui penelitian ini juga, kelompok vitamin B diketahui berperan sebagai koenzim yang penting di dalam tubuh manusia. Produksi massal vitamin untuk pertama kalinya juga terjadi pada era ini. Dikomersilkan pertama kali oleh Tadeus Reichstein pada tahun 1933, vitamin C telah dijual kepada masyarakat luas dengan harga yang relatif murah sehingga terjangkau bagi khalayak ramai. Vitamin C yang dikenal dengan asam askorbat yang kemudian banyak dipakai sebagai suplemen makanan, penelitian, dan gizi tambahan bagi hewan ternak. Atas hasil penemuan ini, Tadeus Reichstein mendapatkan nobel di bidang Fisiologi-Pengobatan pada tahun 1950.

Era penemuan nilai kesehatan vitamin
Hanya dalam waktu 1 dekade berikutnya, perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa vitamin keera berikutnya yaitu dimana banyak ditemukan nilai kesehatan dari masing-masing jenis vitamin dan penemuan baru mengenai fungsi biokimia vitamin bagi tubuh. Masa ini dimulai pada tahun 1955 saat Rudolf Altschul menemukan bahwa niasin (vitamin B3) bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Peranan kesehatan ini terlepas dari efek defisiensi vitamin B3 itu sendiri maupun perannya sebagai koenzim dalam metabolisme tubuh.

Fungsi Vitamin

Adapun fungsi vitamin diantaranya yaitu:

  • Mengatur metabolisme tubuh
  • Menguatkan gigi dan tulang
  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh
  • Mempercepat penyembuhan luka
  • Merangsang pertumbuhan dan perkembangan tubuh
  • Sebagai katalisator dalam reaksi biokimia tubuh
  • Memperlambat proses penuaan karena terkandung antioksidan

Klasifikasi Jenis Vitamin

Secara garis besar, vitamin bisa dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin B dan C, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati, kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain bisa bertahan selama 6 bulan di dalam tubuh.

Sedangkan, jenis vitamin larut dalam air hanya bisa disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Jika tidak dibutuhkan, vitamin tersebut akan segera dibuang tubuh bersama urin. Karena itu, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus.

Vitamin A

Vitamin A dikenal juga dengan retinol, vitamin ini berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin A bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari dan udara. Sumber vitamin A banyak ditemukan pada susu, ikan, sayur-sayuran terutama yang berwarna hijau dan kuning, dan buah-buahan terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan pepaya.

Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan rabun senja, katarak, infeksi saluran pernapasan, dan penurunan daya tahan tubuh. Kelebihan vitamin A di dalam tubuh dapat menyebabkan keracunan, penyakit yang ditimbulkan diantaranya pusing-pusing, kerontokan rambut, kulit kering bersisik, dan pingsan. Selain itu, jika sudah dalam kondisi akut, hal ini bisa menyebabkan kerabunan, terhambatnya pertumbuhan tubuh, pembengkakan hati, dan iritasi kulit.

Vitamin B

Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam pelepasan energi saat beraktivitas. Hal tersebut berkaitan dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang bisa meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah (eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.

BACA JUGA :  Pengertian, Rumus dan Contoh Soal Listrik Dinamis Beserta Cara Penyelesaian Lengkap

Vitamin B1

Vitamin B1 merupakan salah satu jenis vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang dibutuhkan tubuh untuk rutinitas sehari-hari. Selain itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. Jika terjadi defisiensi vitamin B1, maka kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan bersisik. Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf.Sumber vitamin B1 diantaranya gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Nama lain vitamin B1 yaitu Tiamin.

Vitamin B2

Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine dinucleotide, FAD). Kedua enzim tersebut berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi. Selain itu vitamin B2 juga berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensi vitamin B2 dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan. Nama lain vitamin B2 yaitu Riboflavin.

Vitamin B3

Vitamin B3 merupakan vitamin yang berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 berperan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin B3 ini. Sumber vitamin B3 banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan. Namun, ada beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, diantaranya gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin B3 dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual. Nama lain B3 yaitu Niasin.

Vitamin B5

Vitamin B5 merupakan vitamin yang banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh. Vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Selain itu, vitamin B5 juga berperan untuk menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh. Sumber vtamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, seperti daging, susu, ginjal, dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur. Nama lain vitamin B5 yaitu Asam Pantotenat.

Vitamin B6

Vitamin B6 atau piridoksin merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Sumber vitamin B6 diantaranya beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.

Vitamin B7

Vitamin B7 (biotin) atau Vitamin H merupakan vitamin yang berperan sangat besar dalam reaksi biokimia di dalam tubuh, seperti dalam transfer karbon dioksida dan metabolisme karbohidrat dan lemak. Tidak seperti vitamin jenis lain, vitamin ini cukup stabil diberbagai kondisi lingkungan, seperti panas, paparan cahaya matahari, dan oksigen.

Peran utama biotin di dalam tubuh yaitu membantu metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat yang akan membentuk molekul gula sederhana (glukosa), asam lemak, dan asam amino (disebut reaksi katabolisme). Sumber vitamin B7 diantaranya daging, kuning telur, pisang, kacang-kacangan, molase, ragi, dan gandum. Di dalam saluran pencernaan manusia, juga terdapat bakteri yang mampu memproduksi biotin, namun hanya dalam jumlah yang sedikit.

Defisiensi biotin (B7) dapat menyebabkan dermatitis, depresi, nusea, anemia, dan kerontokan rambut. Selain itu, sistem antibodi tubuh juga dapat terganggu dan dapat menyebabkan tubuh mudah terinfeksi oleh bakteri dan jamur.

Vitamin B12

Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh dan berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Sumber vitamin B12 diantaranya telur, hati dan daging Kekurangan vitamin B12 akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan iritasi kulit.

Vitamin C

Vitamin C atau asam askorbat di dalam tubuh berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan. Vitamin C juga dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme tersbeut vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit.

Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan atau kelebihan vitamin C di dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.

Vitamin D

Vitamin D merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ikan, telur, susu, serta produk olahannya, seperti keju. Bagian tubuh yang paling banyak dipengaruhi oleh vitamin D adalah tulang. Vitamin D dapat membantu metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Sel kulit akan segera memproduksi vitamin D saat terkena cahaya matahari (sinar ultraviolet). Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan pertumbuhan kaki yang tidak normal, dimana betis kaki akan membentuk huruf O dan X. Selain itu, gigi akan mudah mengalami kerusakan dan otot pun akan mengalami kekejangan, osteomalasia,(hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara berlebihan di dalam tulang), serta osteoporosis (kerapuhan tulang akibatnya berkurangnya kepadatan tulang). Kelebihan vitamin D dapat menyebabkan tubuh mengalami diare, berkurangnya berat badan, muntah-muntah, dan dehidrasi berlebihan.

Vitamin E

Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati, melindungi paru-paru manusia dari polusi udara. Sumber vitamin E banyak ditemukan pada ikan, ayam, kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang fatal bagi tubuh, antara lain kemandulan baik bagi pria maupun wanita serta saraf dan otot akan mengalami gangguan yang berkepanjangan.

Vitamin K

Vitamin K banyak berperan dalam pembentukan sistem peredaran darah yang baik dan penutupan luka. Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan pendarahan di dalam tubuh dan kesulitan pembekuan darah saat terjadi luka atau pendarahan. Selain itu, vitamin K juga berperan sebagai kofaktor enzim untuk mengkatalis reaksi karboksilasi asam amino asam glutamat. Sumber vitamin K diantaranya susu, kuning telur, dan sayuran segar.

Demikian artikel pembahasan tentang “Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Klasifikasi Jenis dan Sumber Vitamin Lengkap“, semoga bermanfaat